ILMU HIKMAH
![]() |
![]() |
HASIL pengamatan 30 tahun dibidang ilmu hikmah (metafisika) menunjukkan bahwa ikhtiar atau belajar ilmu metafisika secara tradisional (salaf), prosentase keberhasilannya juah lebih besar dibanding belajar secara modern yang identik dengan “jual-beli” (program jarak jauh), dll.
Imam Ghozali dalam Ihya' Ulumuddin menulis : Apabila hati orang-orang yang berilmu telah cenderung kepada cinta dunia dan mementingkannya melebihi akhirat, maka ketika itu Allah menghilangkan sumber-sumber hikmah. Pada bab yang lain, dituliskan : “Sesungguhnya pudarnya cahaya ilmu dan hikmah, apabila keduanya dipergunakan untuk mencari dunia.”
Kita melihat banyak website menawarkan jasa metafisik. Mulai urusan jabatan, pelet, pelatihan ilmu keparanormalan, dan sebagainya. Maraknya informasi itu menyebabkan ilmu mudah didapatkan tanpa melalui perjuangan. Dan karena kemudahan itulah menyebabkan ilmu kehilangan ruh . Ilmu hanya ada dalam bentuk “catatan” saja.
Perjalanan
Awal tahun 1980 saya mulai mengenal metafisika. Tahun 1992 banyak menulis metafisika dimas media dan menulis buku-buku metafisika. Karena itu, saya banyak didatangi pembaca buku, baik Indonesia bahkan luar negeri. Awalnya saya melayani tamu (klien atau pasien) secara tradisional. Apakah klien itu memberi imbalan uang atau tidak, tidak masalah. Namun ketika saya mulai terpengaruh arus zaman, tiap klien yang datang, kena tarif semi resmi.
Sebenarnya hal ini tidak salah. Sahabat Nabi SAW pernah meminta upah beberepa ekor kambing saat mengobati kepala suku yang digigit hewan berbisa dan Nabi SAW ikut makan dagingnya. Artinya, jika uang hasil mengobati secara metafisik itu dilarang, beliau tentu tidak mau memakan dagingnya.
IKHLAS, SENJATA PARA WALI
Tahun 2008 saya mulai membandingkan prosentase keberhasilan antara klien yang saya layani secara tradisional (persaudaraan, ikhlas-ikhlasan) dengan klien yang saya perlakukan komersial.
Hasilnya menunjukkan ”Prosentase berbalik” . Klien yang saya layani secara ikhlas, 80 presen berhasil, sedangkan klien yang saya tangani secara komersial, tingkat keberhasilannya hanya mencapai 25 - 30 presen.
Saat bertemu rohaniawan yang dikenal ampuh doanya, saya memperoleh nasihat : “Senjata para wali adalah ikhlasnya”.
Anda tentu pernah mendengar kisah seseorang “penjaga agama” yang akan menebang pohon karena dikeramatkan penduduk. Tetapi ditengah jalan ia dihadang setan.
Lalu terjadilah perkelahian. Setan dapat dikalahkan, namun setan merayunya agar mengurungkan niatnya menebang pohon dan sebagai imbalan, setan akan memberi uang setiap hari.
Sang penjaga agama setuju. Niat menegakkan syareat berbelok karena godaan harta. Ia lalu pulang dan keesokan harinya, setan menepati janjinya. Dibawah bantalnya ada uang yang datang secara gaib.
Namun hal itu hanya berlangsung tiga pagi. Pagi keempat, setan tidak mengirim uang dan penjaga agama itu marah. Ia lalu mengambil kapak untuk menebang pohon. Setan menghalangi, namun pada perkelahian kedua, penjaga agama itu kalah karena hatinya tidak ikhlas. Niat menebang pohonnya bukan karena ingin memberantas kemusyrikan melainkan marah karena tidak dikirimi uang.
Ada pelajaran menarik dari kisah ini. Seorang penjaga agama dapat dikalahkan setan ketika keikhlasan mulai meninggalkan hatinya. Karena itu, aktivitas spiritual sebaiknya dilakukan dengan tulus agar doa lebih manjur.
Sebagai penulis buku metafisika, saya punya banyak pengalaman dengan kalangan paranormal. Ketika hatinya masih polos, mereka ampuh. Namun setelah terkenal dan banyak didatangi tamu dan kenal “uang besar”, energi metafisiknya pun menurun.
Namun demikian bukan berarti seorang praktisi tidak boleh menerima imbalan dari klien. Caranya saja yang perlu dirubah agar lebih manusiawi. Yaitu pasien menentukan imbalan sesuai kemampuan dan keikhlasannya.
Sedangkan pihak yang dimintai bantuan berpedoman pada rumus : HATI TIDAK BOLEH TAMAK, MULUT TIDAK BOLEH MEMINTA, JIKA DIBERI? . . . TIDAK BOLEH MENOLAK.
Menurut para pinesepuh , Ilmu hikmah didalamnya terkandung sirri atau rahasia yang melibatkan unsur-unsur Ilahiah . Seseorang yang ingin keajaiban dan keberkahannya disarankan untuk membersihkan niatnya.
Kembali belajar atau ikhtiar secara pola salaf (tradisional) adalah salah satu jalan untuk mengembalikan ruh ilmu hikmah yang mulai pudar. Belajar dan ikhtiar dengan bertemu langsung guru pembimbing, menjalin silaturahmi, berendah hati namun tidak mengultuskannya, cara ini akan mendekatkan pada keberkahan.
Keajaiban ilmu hikmah terkait dengan ketulusan dan kejujuran antara yang memberi (guru) dan yang meminta (murid). Pengertian ikhlas bukan berarti gratis. Intinya, guru yang baik adalah guru yang tidak perlu meminta-minta, namun murid yang baik adalah murid yang tahu diri alias tahu sendiri. Insya Allah, jika hal ini yang terjadi, maka anda bukan sekedar memperoleh “catatan ilmu”, melainkan memperoleh ruh-nya ilmu.
Untuk itu, setiap hari Jumat , kami siap meluangkan waktu bagi Anda yang ingin ikhtiar maupun yang ingin ijazah ilmu hikmah. Silakan datang dan untuk memastikan jadwal pertemuan, silakan konfirmasi sebelumnya.
|



